Monday, 2 January 2012

Jejaring sosial menutup bayangan timur,

Jejaring social kini telah berkembang pesat di Indonesia. Akses yang mudah, murah, dan efektif menjadikan situs jejaring sosial dilirik sebagai penyebaran informasi yang cepat dan berguna untuk sosialisasi dalam berbagai hal seperti pendidikan, kesehatan, politik, penanggulangan bencana, ekonomi, dan informasi yang lain. Pertanyaannya adalah “Benarkah jejaring sosial menutupi jati diri Negara kita?”. Pertanyaan tersebut mungkin sangat jarang dijadikan introspeksi penerus bangsa kita. Hal ini terlihat dengan penurunan kesopan-santunan dalam berinterkasi ataupun bergaul.
           
Indonesia termasuk negara-negara timur dengan tingkat sopan santun dan adat-budaya yang kental. Namun kini, dengan adanya keinginan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju. Segala bentuk pembangunan dan perkembangan dilakukan secara eksrim. Sayangnya mereka yang melakukan hal tersebut bergerak tanpa memikirkan hal lain yang sebenarnya penting. Hubungan dari hal tersebut yakni jejaring sosial tidak hanya digunakan oleh pihak tertentu tetapi oleh segala lapis masyarakat. Pada masalah ini digaris bawahi pada perilaku remaja dengan situs jejaring social.

Pengaruh budaya barat sangat merombak bentuk sosial di Indonesia. Remaja Indonesia  yang sedari kecilnya dalam awal dunia pendidikan ditanamkan “negara kita adalah negara berkembang dan kita harus menjadi negara maju!”. Oleh karena pendidikan yang kurang berkualitas, indoktrinasi tersebut nyatanya justru membuat para penerus bangsa secara mentah mencerna bahwa negara maju dijadikan contoh negara berkembang. Akan tetapi, bukan cara berpikir atau perilaku positif yang mereka ambil, justru sebaliknya.

Semenjak masuknya jejaring sosial Friendster sekitar tahun 2000-an  yang sempat merajai dunia maya, berbondong-bondong orang membuka account di situs tersebut dan siapapun dapat kenal dan bertemu dengan teman lama atau baru di sini. Kemudian situs jejaring sosial lainnya mulai bermunculan seperti Facebook, Twitter, Heello, Plurk, Google Plus, dan banyak lainnya. Kemudahan akses dan pengoresiaannya menjadikan situs jejaring sosial tersebut menjadi kebutuhan utama bagi para remaja layaknya nasi.

Situs jejaring sosial dan perubahan gaya hidup menjadi alasan utama para masyarakat urban menjadikan vendor-vendor melirik kesempatan ini untuk memfasilitasi kebutuhan tersebut. Dari data yang didapat, sejak tahun 2007 banyak ponsel yang menawarkan kemudahan mengakses jejaring sosial, sehingga hal tersebut meningkatkan penggunaan internet yang sangat signifikan.

Masyarakat Indonesia yang dulu memang terlihat tradisional di negara agraris, kini telah berubah. Tidak dapat dipungkiri lagi, tanpa melihat batas umur dan status masyarakat jejaring sosial mulai menyusup dikehidupan kita. Tanpa kita sadari pula hal ini sekarang menjadi pemandangan biasa di kota besar maupun daerah yang telah terjamah aksesnya.

Media elekronik yang menyediakan fasilitas tersebut dapat dimiliki dengan harga terjangkau. Hal ini terlihat dalam satu dekade ini. Dulu media yang memfasilitasi hanya dapat dengan kamputer yang terkoneksi internet yang harganya sendiri mencapai sekitar 5 juataan dan penggunaanya dianggap rumit oleh sebagian besar masyarakat kita.  Saat ini bisa kita akses memalui ponsel yang harganya cukup ekonomis dengan kisaran harga di atas Rp 100.000,- yang aksesnya juga tidak rumit.

Jika kita lihat dalam jejaring sosial, media sosial ini memiliki fungsi yang berbeda-beda tergantung penggunanya. Dengan adanya penawaran fasilitas seperti berbagi informasi, foto, video, bahkan game online serta chatting. Tidak heran banyak kalangan anak muda memanfaatkannya  sebagai media belajar berbisnis, belajar, bermain, dan berekspreis.

Kecenderungan aktifitas tersebut dalam bergelut didunia maya menjadikan mereka tidak sadar hal ini mempengaruhi kondisi kejiawaaan dan sosialnya. Sebagian besar situs jejaring sosial yang digunakan masyarakat Indonesia menggunakan bahasa tulis dan kita ketahui bahasa tulis merupakan cara berinterkasi secara tidak langsung.

Seperti tayangan televisi, media sosial ini bisa kita ibaratkan tayanyan infotainment yang membicarakan artis-artis dan orang yang berekspresi di jejaring sosial bisa kita ibaratkan artis yang dibicarakan. Mereka yang membagi informasinya sendiri pada masyarakat banyak di jejaring sosial tanpa mereka sadari perilaku dan aktifitasnya yang ada dapat dijadikan penilaian seseorang atau bahan omongan.

Pemerintah atau para petinggi negara juga menggunakan jejaring sosial sebagai media sosial mereka. Maraknya berita mengenai para petinggi negara juga sempat mengikutsertakan jejaring sosial dalam beberapa kasus yang ramai diperbincangkan.

Untuk masyarakat Indonesia khususnya para anak muda, sebenarnya jejaring sosial kurang berdampak positif bagi sebagian mereka yang tingkat pendidikan dan pemahamannya kurang mantap. Padahal kita ketahui, tingkat pendidikan dan kualitasnya sendiri masih kurang matang. Hal tersebut berimbas pada penggunaan mereka pada media sosial tersebut.  Mereka justru menggunakannya untuk hanya untuk update status yang isinya sendiri tidak penting atau meng-upload foto-foto atau video. Ada juga yang hanya bermain game online yang mereka sendiri tidak tahu manfaatnya.  Mereka hanya menjadikan jejaring sosial untuk bersenang-senang.

Sebenarnya masalah utamanya bukan pendidikan hanya saja pendidikan sosialnya yang perlu diperhatikan. Kurang ketegasan dalam pendidikan sosial membuat moral dan sikap bibit yang sedang digarap menjadi lembek dan tidak memperhatikan adat atau budaya yang ada. Pendidikan disekolah kini dianggap hanya berorientasi pada nilai, ujian-ujian, tingkat kelulusan, dan hasil akhir. Akan tetapi, hal-hal lain tidak mereka hiraukan.

Bukan menyalahkan atau membenarkan aktifitas-aktifitas tersebut, hanya menyayangkannya. Tidak salah jejaring sosial sebagai media sosial. Hanya saja jejaring sosial yang ada di dunia memberikan imbas pada kehidupan sosial kita secara langsung. Dunia maya yang disinyalir sebagai media non face to face atau interaksi tidak langsung membuat proses interaksi sosial berjalan tidak sempurna. Mereka yang mungkin aktif di dunia maya tidak berarti aktif dikehidupan nyatanya.

Perubahan sosial dan budaya di negara kita pun mulai berubah. Internet dan jejaring sosial yang dijadikan penyebabnya. Tidak buruk kita mengenal dan menggunakan internet karena setiap hal pasti memiliki dampak positif juga negatifnya. Sayangnya penggunaan yang paling besar untuk anak muda hanya jejaring sosial yang dampak dan manfaat positifnya kurang dapat kita ambil di dunia nyata untuk kalangan anak muda. Mungkin untuk kalangan mahasiswa, perkantoran, atau pemerintahan mereka dapat memberi informasi atau pengetahuan pada anak muda, hanya saja di jejaring sosial sebagian besar mereka lebih tertarik dengan hal-hal sesuai kalangan mereka.

Jejaring sosial dan masyarakat Indonesia hubungannya semakin erat dan sulit terpisahkan. Bisa dikatidakan pula bahwa telah menjadi gaya hidup dalam budaya modern era ini. Walaupun telah menjadi gaya hidup di negara kita, tidak berarti kita menyisihkan budaya lokal dari budaya barat yang terlanjur menjadi contoh para guru, dulu. Saatnya kita berbenah diri. Menjadi jati diri negara kita tidak berarti konsisten dengan berkembang. Lihat saja Jepang! Mereka negara maju dengan kuat menjadi sosok “Matahati Terbit” di dunia.

Marilah dari dunia maya dan dunia lainnya, tengoklah tanah air! Jika, mereka di luar sana selalu memperhatikan kita tidak pantaslah kita tidak berdandan. Berdandan menjadi sosok Indonesia!

No comments: